Musim kemarau telah lama tinggal di Rote.
Tanah di halaman rumah mulai retak. Rumput menguning dan angin membawa debu dari jalanan. Di kejauhan, deretan pohon lontar berdiri seperti orang-orang tua yang tak pernah lelah menjaga pulau.
Di bawah salah satu pohon itu, Nara duduk seorang diri.
Di pangkuannya terbaring sebuah sasando tua milik kakeknya.
“Jangan dipetik kalau hatimu sedang marah,” pesan Kakek beberapa hari sebelum meninggal.
Nara tidak pernah mengerti maksudnya.
Baginya, sasando hanyalah alat musik. Dawainya dipetik, bunyinya keluar. Selesai.
Tetapi sore itu, setelah pulang dari sekolah, ia membawa sasando itu ke bawah pohon lontar. Ia sedang marah kepada ayahnya.
Ayahnya melarang Nara mengikuti perlombaan musik antarsekolah.
“Tidak ada gunanya,” kata ayahnya. “Lebih baik bantu di kebun.”
Nara merasa mimpinya tidak pernah dianggap penting.
Ia menarik napas, lalu memetik satu dawai.
Ting…
Suara itu melayang bersama angin.
Nara memetik lagi.
Ting… ting…
Perlahan ia berhenti marah.
Ia teringat kakeknya.
Dahulu, setiap sore, kakeknya duduk di tempat yang sama. Sambil memainkan sasando, lelaki tua itu sering berkata, “Lontar mengajarkan kita satu hal. Ia memberi banyak hal kepada manusia, tetapi tidak pernah bertanya siapa yang akan menerima.”
Nara baru memahami kalimat itu hari ini.
Lontar memberi daun untuk atap, daun untuk anyaman, nira untuk kehidupan, dan buah untuk dimakan. Ia tumbuh di tanah yang keras dan tetap berdiri ketika hujan lama tidak datang.
Nara memandang pohon di atas kepalanya.
“Kalau begitu, aku juga harus seperti lontar,” bisiknya.
Keesokan harinya, Nara kembali menemui ayahnya.
“Ayah,” katanya, “aku akan tetap membantu di kebun. Tapi bolehkah aku mencoba sekali mengikuti perlombaan itu?”
Ayahnya diam cukup lama.
“Kamu yakin?”
Nara mengangguk.
Ayahnya mengambil sasando dari tangan Nara, memeriksa dawainya, lalu menyerahkannya kembali.
“Kalau begitu, jangan hanya mengejar menang.”
Nara menatap ayahnya.
“Lalu?”
“Bawalah suara Rote ke sana.”
Untuk pertama kalinya, Nara tersenyum.
Beberapa minggu kemudian, di sebuah panggung kecil yang jauh dari kampungnya, Nara duduk dengan sasando di pangkuan.
Sebelum memainkan lagu, ia memandang ke arah penonton.
Ia teringat tanah kering, laut yang luas, pohon-pohon lontar, rumahnya, ayahnya, dan suara kakeknya.
Lalu jemarinya menyentuh dawai.
Ting…
Suara sasando mengalir.
Bukan sekadar suara musik.
Bagi Nara, itu adalah suara tanah kelahirannya.
Suara angin yang melewati daun lontar.
Suara laut yang memukul pantai.
Suara orang-orang yang tetap bertahan ketika musim kemarau datang.
Dan ketika lagu itu selesai, Nara tidak langsung melihat apakah ia menang.
Ia hanya tersenyum.
Karena hari itu ia akhirnya mengerti pesan kakeknya.
Warisan tidak selalu berupa benda yang disimpan di dalam rumah.
Kadang-kadang, warisan adalah suara yang kita bawa ke mana pun kita pergi.