Sasando

Setiap kali suara sasando terdengar dari ruang musik, Lira selalu mencari alasan untuk melewati koridor itu.

Kadang ia pura-pura mengembalikan buku. Kadang mengambil sesuatu dari ruang kelas. Kadang hanya berjalan perlahan, berharap lagu itu belum selesai ketika ia tiba di depan pintu.

Di dalam sana, Pak Daniel, guru seni musiknya, duduk memainkan sasando.

Jari-jarinya bergerak lembut di antara dawai. Nada-nada yang keluar seperti angin yang melewati daun lontar—tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Lira menyukai suara itu.

Namun, diam-diam, ia menyukai orang yang memainkannya.

Perasaan itu tumbuh tanpa pernah ia rencanakan. Mula-mula hanya kekaguman kepada gurunya yang sabar mengajarkan musik. Kemudian berubah menjadi rasa senang setiap kali mendengar suaranya. Lama-kelamaan, Lira menyadari ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.

Tetapi ia tahu perasaan itu harus disimpan.

Pak Daniel adalah gurunya.

Dan Lira adalah muridnya.

Karena itu, ia tidak pernah mengatakan apa-apa.

Bahkan kepada sahabat terdekatnya.

Perasaan itu ia simpan sendiri, seperti surat yang ditulis tetapi tidak pernah dimasukkan ke dalam amplop.

Suatu sore, Pak Daniel mengajarkan mereka sebuah lagu daerah Rote.

“Musik,” katanya sambil tersenyum, “kadang-kadang bisa mengatakan sesuatu yang tidak sanggup kita ucapkan.”

Kalimat itu tinggal lama di kepala Lira.

Ia ingin mengatakan banyak hal.

Tentang kekagumannya.

Tentang rasa senangnya ketika mendengar sasando dimainkan.

Tentang bagaimana sebuah lagu bisa membuat hari sekolah yang melelahkan terasa lebih ringan.

Tetapi tidak satu pun keluar dari mulutnya.

Hari-hari berlalu.

Hingga suatu pagi, sekolah mengumumkan sesuatu yang membuat dunia kecil Lira seakan berhenti.

Pak Daniel akan menikah.

Dengan seorang guru di sekolah mereka.

Lira mendengar kabar itu dari teman-temannya. Semua orang tampak bahagia. Mereka membicarakan persiapan pernikahan, siapa yang akan datang, dan bagaimana guru-guru akan menghadiri acara tersebut.

Lira ikut tersenyum.

“Wah, selamat untuk Pak Daniel,” katanya.

Hanya itu.

Tidak seorang pun tahu bahwa setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pergi ke toilet dan menangis sendirian.

Hari pernikahan itu tiba.

Lira datang.

Ia mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya. Ia tersenyum ketika orang lain tersenyum. Ia mengucapkan selamat ketika orang lain memberikan ucapan.

Kemudian, pada satu kesempatan, Pak Daniel memainkan sasando.

Lagu yang dimainkan terdengar indah.

Sangat indah.

Tetapi untuk pertama kalinya, Lira berharap suara sasando itu berhenti.

Ia memandang gurunya yang kini berdiri bersama perempuan yang akan menjadi istrinya.

Di tengah kebahagiaan semua orang, ada satu hati yang sedang belajar menerima kehilangan atas sesuatu yang bahkan tidak pernah dimilikinya.

Lira menundukkan kepala.

Tidak ada yang perlu disalahkan.

Pak Daniel tidak pernah tahu.

Ia tidak pernah menjanjikan apa pun.

Tidak pernah memberikan harapan.

Tidak pernah tahu bahwa di antara murid-muridnya, ada seorang anak perempuan yang diam-diam mengaguminya lebih dari yang seharusnya ia akui kepada dirinya sendiri.

Maka Lira memilih menyimpan semuanya.

Ia menyimpan perasaan itu bersama suara sasando yang pernah membuatnya bahagia.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Lira telah meninggalkan sekolah, ia kembali mendengar suara sasando dari sebuah rumah di kampungnya.

Ia berhenti berjalan.

Nada itu mengingatkannya pada sebuah masa yang telah lama berlalu.

Lira tersenyum kecil.

Kini ia mengerti.

Tidak semua cinta harus memiliki akhir berupa kebersamaan.

Ada perasaan yang memang hanya datang untuk mengajarkan seseorang tentang kehilangan, tentang melepaskan, dan tentang menjadi dewasa.

Ia melanjutkan langkahnya.

Suara sasando semakin jauh.

Tetapi kenangan itu tetap tinggal.

Bukan sebagai luka yang harus disesali, melainkan sebagai sebuah lagu lama yang pernah ia dengarkan diam-diam—dan hanya dirinya sendiri yang tahu betapa dalam maknanya.

Seperti sasando.

Dawai-dawainya dipetik oleh tangan yang berbeda, tetapi setiap orang dapat mendengar keindahan yang lahir darinya.

Begitu pula perasaan Lira.

Tidak pernah terucapkan.

Tidak pernah dimiliki.

Tetapi pernah ada.

Dan hanya dia yang tahu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *